LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI dan FISIOLOGI MANUSIA SISTEM GERAK REFLEKS

0
737

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI dan FISIOLOGI MANUSIA

SISTEM GERAK REFLEKS

Oleh :

Kls/Smt:  A/II

Nama Kelompok :

  1. Dewa Ayu Embas Saraswati                    (131016)
  2. Ni Putu Erna Widiasmini                          (131017)
  3. Eugenius Surya Puji                                  (131018)
  4. Fransiska Oktaviana Mei                          (131019)
  5. Gusti Agung Ayu Ketut Sudiariyanti       (131020)

AKADEMI FARMASI SARASWATI DENPASAR

TAHUN AKADEMIK 2013/2014

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Tubuh manusia terbentuk atas banyak jaringan dan organ yang masing-masing memiliki tugas dan fungsi khusus. Sel adalah unit atau unsur yang terkecil tubuh yang dimiliki oleh semua bagian tubuh. Sel disesuaikan oleh tugas dan fungsinya, atau dengan jaringan tempat sel itu berada. Beberapa sel misalnya yang berada pada system saraf dan otot, memang sangat khas. Beberapa lainnya, seperti yang ada dalam jaringan ikat, perkembangannya tidak sesempurna dengan sel yang ada di saraf dan otot. Pada umumnya semakin khusus tugas suatu sel semakin kecil daya tahannya menghadapi kerusakan dan paling sukar memperbaiki atau mengggantinya. System kehidupan dapat didefenisikan dari berbagai sudut pandang, dari yang paling luas ( memerhatikan seluruh bumi) sampai yang paling kecil (tingkat atom). Setiap sudut pandang menyediakan informasi tentang bagaimana atau mengapa sebuah system kehidupan berfungsi.

Tubuh manusia terdiri dari sel, jaringan, organ, dan system organ. Dalam tubuh manusia disusun oleh rangka, dimana rangka ini diliputi oleh otot-otot yang juga menyusun tubuh dan melindungi organ lain dalam tubuh mahluk hidup. Untuk menggerakkan tubuh manusia harus ada perintah ke saraf, disini diketahui bahwa gerakan itu ada yang disadari dan ada yang tak disadari. Gerakan yang disadari adalah gerakan yang memang benar-benar perintah dari otak sedangkan gerakan yang tidak disadari tiba-tiba terjadi yang mungkin disebabkan karena kaget atau yang lainnya.

Berdasarkan hal tersebut diatas maka dilakukanlah praktikum ini. Dimana pada praktikum ini kita akan mengamati dan mengenal beberapa gerakan yang tidak disadari atau gerak refleks. Praktikum ini akan lebih memperjelas pengetahuan kita tentang gerak refleks.

1.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat memahami dan mengetahuimacam-macam gerak refleks.

 1.3 Landasan Teori

            Gerak pada umumnya terjadi secara sadar, namun, ada pula gerak yang terjadi tanpa disadari yaitu gerak refleks. Untuk terjadi gerak refleks, maka dibutuhkan struktur sebagai berikut : organ sensorik (yang menerima impuls), serabut saraf sensorik (yang menghantarkan impuls), sumsum tulang belakang (serabut-serabut saraf penghubung menghantarkan impuls), sel saraf motorik (menerima dan mengalihkan impuls), dan organ motorik (yang melaksanakan gerakan).

Gerak refleks merupakan bagian dari mekanika pertahanan tubuh yang terjadi jauh lebih cepat dari gerak sadar, misalnya menutup mata pada saat terkena debu, menarik kembali tangan dari benda panas menyakitkan yang tersentuh tanpa sengaja. Gerak refleks dapat dihambat oleh kemauan sadar ; misalnya, bukan saja tidak menarik tangan dari benda panas, bahkan dengan sengaja menyentuh permukaan panas. (Evelyn Pearce, 2009 : 292)

Mekanisme  gerak refleks merupakan  suatu gerakan yang terjadi secara tiba-tiba diluar kesadaran kita. Refleks fleksor, penarikan kembali tangan secara refleks dari rangsangan yang berbahaya merupakan suatu reaksi perlindungan. Refleks ekstensor (polisinaps) rangsangan dari reseptor perifer yang mulai dari refleksi pada anggota badan dan juga berkaitan dengan ekstensi anggota badan. Gerakan refleks merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh dan terjadi jauh lebih cepat dari gerak sadar misalnya menutup mata pada saat terkena debu

Berdasarkan fungsinya, sel neuron dapat dibedakan menjadi 4 Bagian:

  1. Neuron sensorik (nouron aferen) yaitu sel saraf yang bertugas untuk menyampaikan rangsangan dari reseptor ke pusat susunan saraf. Neuron memiliki dendrit yang berhubungan dengan reseptor (penerima rangsangan) dan neurit yang berhubungan dengan sel saraf lainnya.
  2. Neuron Motorik (nouron aferen), yaitu sel saraf yang berfungsi untuk menyampaikan impuls motorik dari susunan saraf pusat ke saraf efektor. Dendrit menerima impuls dari akson neoron lain sedangkan aksonnya berhubungan dengan efektor.
  3. Neuron konektor adalah sel saraf yang bertugas menghubungkan antara neuron yang satu dengan yang lainnya.
  4. Neuron ajustor, yaitu sel saraf yang bertugas menghubungkan neuronØ sensorik dan neuron motorik yang terdapat di dalam sumsum tulang belakang atau di otak (Idel, 2000).

Refleks pada dasarnya merupakan suatu respon dalam rangka mengelak dari suatu rangsangan yang dapat membahayakan atau mencelakakan. Ciri refleks adalah respon yang berlangsung cepat atau tidak disadari oleh yang bersangkutan. Refleks semacam ini dinamakan reflex bawaan yang pusatnya pada sumsum tulang belakang. Impuls saraf berasal dari reseptor dibawa oleh sareaf eferen yang bersifat sensorik, menuju ke system sarf pusat, yaitu sumsum tulang belakang. Di sumsum tulang belakang, impuls di transfer oleh neuron asesori dari neuron sensori ke neuron motorik. Dari neuron motorik impuls di alirkan melalui saraf motorik ke efektor.

Dilihat dari bentuk reaksi atau aksi yang ditimbulkan refleks memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Dapat diramalkan, respon yang ditimbulkan karena adanya rangsangan yang berulang-ulang akan sama.
  2. Mempunyai tujuan tertentu, refleks sangat berfungsi sebagai kelangsungan hidup suatu organisme.
  3. Refleks memiliiki reseptor tertentu, dengan kata lain setiap rangsangan akan menimbulkan respon namun terbentuknya respon ini hanya pada efektor tertentu.
  4. Refleks mempunyai periode laten, adanya waktu antara stimulus dan mulai terjadinya respon pada efektor.
  5. Spontan dan tidak dipelajari.
  6. Berfungsi sebagai pelindungdan pengatur
  7. Periode laten akan lama pada respon yang terus meneruskan sehingga akan mengakibatkan timbulnya kelelahan (Widiastuti, 2002).

Beberapa Metode Pemeriksaan Refleks

  1. Refleks kornea , Kapas yang telah di sediakan, di gulung menjadi bentuk selinder halus. Orang coba menggerakan bola mata ke lateral yaitu dengan melihat ke salah sisi tanpa menggerakan kepala. Sentuhlah dengan hati-hati sisi kontralateral kornea dengan kapas. Respon yang terjadi berupa kedipan mata secara cepat.
  2. Refleks cahaya, Cahaya senter yang dijatuhkan pada pupil salah satu mata orang coba. Respon yang terjadi berupa konstriksi pupil homolateral dan kontra lateral.
  3. Refleks periost radialis, Lengan orang coba setengah ditleksikan pada sendi siku dan tangan sedikit dipronasikan. Ketuk periosteum pada ujung distal os radii. Respon yang terjadi pada orang coba berupa fleksi lengan bawah pada siku dan supinasi tangan.Pada percobaan ini
  4. Refleks periost ulnaris, Lengan bawah setengah difleksikan pada sendi siku dan tangan antara pronasi dan supinasi. Ketuk pada periost prosessus stiloideus. Respon yang terjadi yaitu berupa pronasi tangan.Pada orang coba pada saat praktikum terlihat adanya refleks tersebut.
  5. Knee Pess Refleks (KPR), Pada percobaan ini orang coba duduk pada tempat yang agak tinggi sehingga kedua tungkai akan tergantung bebas atau oarang coba berbaring terlentang dengan fleksi tungkai pada sendi lutut. Ketuk tendo patella dengan hammer sehingga terjadi ekstensi tungkai disertai kontraksi otot kuadriseps.
  6. Achilles pess refleks, Tungkai orang coba difleksikan pada sendi lutut dan kaki didorsofleksikan, ketuk tendo achilles, sehingga terjadi plantar fleksi dari kaki dan kontaraksi gastroknemius.
  7. Refleks biseps, Lengan orang coba setenganh di fleksikan pada sendi siku. Ketuk pada tendo otot biseps akan menyebabkan fleksi lengan pada siku dan tampak kontraksi otot biseps.
  8. Refleks triseps, Lengan bawah difleksikan pada sendi siku dan sedikit dipronasikan. Ketukan pada tendo otot triseps 5 cm di atas siku, ini akan menyebabkan ekstensi lengan dan kontarksi otot triseps.
  9. Withdrwal Refleks, Lengan orang coba diletakkan di atas meja dalam keadaan ekstensi. Tunggu pada saat orang coba tidak melihat saudara, tusuklah dengan hati-hati dan cepat kulit lengan dengan jarum sntik steril, sehalus mungkin agar tidak melukai orang coba. Respon yang terjadi berupa fleksi lengan tersebut menjauhi stimulus.

METODE

  1. TUJUAN PRAKTIKUM

ü  Mengetahui mekanisme terjadinya reflex

ü  Melakukan prosedur pemeriksaan reflex fisiologis dengan baik dan benar

ü  Mennjelaskan parameter normal hasil pemeriksaan reflex

  1. ALAT DAN BAHAN

ü  Palu reflex

ü  Kapas

  1. CARA KERJA
  1. Refleks Dalam (reflex fisiologis)
    = Refleks regang otot

      = Refleks tendon

Timbul akibat regangan otot oleh rangsangan (ketok) sebagai jawaban : kontraksi.

  1. Refleks Bisep : extremitas superior

      = Biseps Pees Refleks (BPR)

     Pusat : C5-C6

    Cara :

–          Lengan bawah penderita semifleksi

–          Tempatkan ibu jari di atas tendon otot biseps lalu ketok

  1. Refleks Triseps : extremitas superior

   = Triseps Pees Refleks ( TPR)

      Pusat : C6-C8

      Cara :

–        Lengan penderita semifleksi

–        Ketok insersio tendon m.triseps (atas olekranon)

–        Jawaban : Kontraksi Triseps

  1. Refleks Kuadrisep Femoris : extremitas inferior
    = Knee Pees Refleks ( KPR)
    = Refleks Patella
    Pusat : L2,L3,L4
    Cara :
    –  Tungkai di fleksi gantungkan
    –  Ketok tendon m.kuadriseps femoris (bawah patella)
  2. Refleks Tendon Achilles : extremitas inferior
    = Achilles Pees Refleks ( APR)
    = Refleks Triseps Sure
    Pusat : S1,S2
    Cara :
    –  Tungkai bawah fleksi sedikit
    –  Dorsofleksikan kaki ( pegang ujung jari-jari)
    –  Ketok tendon Achilles
  3. REFLEKS SUPERFISIAL
    Refleks Kornea
    Cara :
  • Kapas digulung ujungnya sampai runcing
  • Suruh orang coba melirik
  • Sentuh kornea berlawanan lirikan

– Respon : Refleks
– Lengkung: aferen N.V1,efferent N.VII

HASIL PRAKTIKUM

No Nama Macam-macam Gerak Refleks
Refleks Bisep Refleks Triseps Refleks Patella Refleks Tendon Achilles Refleks Kornea
1 Embas Kontraksi Kontraksi Kontraksi Kontraksi Berkedip
2 Erna Kontraksi Kontraksi Kontraksi Kontraksi Berkedip
3 Eugenius Kontraksi Kontraksi Kontraksi Kontraksi Berkedip
4 Fransiska Kontraksi Kontraksi Kontraksi Kontraksi Berkedip
5 Diari Kontraksi Kontraksi Kontraksi Kontraksi Berkedip

 PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah kami lakukan, dari uji coba gerak refleks pada bagian-bagian tubuh manusia maka diperoleh data yaitu pada refleks biceps gerakan yang terjadi menjauh dan gerakannya monosinaps berupa fleksi lengan pada siku dan supinasi. Pada refleks triceps gerakannya menjauh dan merupakan refeeks monosinaps berupa ekstensi lengan dan supinasi. Pada refleks patella (KPR) terjadi gerakan menjauhi dan merupakan refleks monosinaps.

Pada reflex Achilles Pess Refleks (APR),  gerakan yang terjadi menjauhi martil refleks dan merupakan gerak refleks monosinaps karena hanya gerakan kaki yang ada. Pada respon yang terjadi ketika tendon Achilles diketuk berupa fleksi dari kaki dan kontraksi otot gastroknemius. Pada refleks kornea gerakannya menjauhi dan merupakan refleks monosinaps dengan gerakan menutup mata.

Mekanisme gerak refleks yaitu mulai dari stimulus atau rangsangan kemudian ke reseptor atau indra ke saraf sensorik ke sumsum tulang belakang kemudian ke saraf motorik ke efektor dan kemudian menimbulkan gerakan. Monosinaps adalah gerak refleks yang menghasilkan hanya satu gerakan sedangkan Polisinaps adalah gerak refleks yang menghasilkan lebih dari satu gerakan.

Pengamatan pada kelompok kami diperoleh refleks yang sama setiap individu. Pada teorinya apabila diperoeh tespon yang berbeda disebabkan karena gerak refleks dapat dihambat oleh kemauan sadar, misalnya bukan saja tidak menarik tangan dari benda panas, bahkan dengan sengaja menyentuh permukaan benda panas itu (Pearce, 2006). Selain itu rangsangan yang diberikan dapat diubah menjadi bentuk aksi-aksi yang berbeda oleh reseptor, maka reseptor ini menimbulkan gerakan atau aksi-aksi yang berbeda setiap individu.

            Gerak refleks disebabkan oleh rangsangan tertentu yang biasanya mengejutkan dan menyakitkan. Misalnya bila kaki menginjak paku,secara otomatis kita akan menarik kaki dan akan berteriak. Refleks juga terjadi ketika kita membaui makanan enak , dengan keluarnya air liur tanpa disadari. Gerak refleks terjadi apabila rangsangan yang diterima oleh saraf sensori langsung disampaikan oleh neuron perantara (neuron penghubung). Hal ini berbeda sekali gerak dengan mekanisme gerak biasa. Gerak biasa rangsangan akan diterima oleh saraf sensorik dan kemudian disampaikan langsung ke otak. Dari otak kemudian dikeluarkan perintah ke saraf motori sehingga terjadilah gerakan. Artinya pada gerak  biasa gerakan itu diketahui atau dikontrol oleh otak. Sehingga gerak biasa adalah gerak yang disadari (Prasetyo, 2009).

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini adalah sebagaiberikut :

  1. Refleks biseps berupa fleksi lengan pada siku dan kontraksi otot biseps.
  2. Ketukan pada tendon otot triseps diatas siku akan menyebabkan refleks berupa gerakan fleksi dalam hal ini berupa ekstensi lengan dan kontraksi otot triseps
  3. Knee pess refleks, ketukan pada tendon patella menggunakan pali refleks akan menimbulkan refleks berupa ekstensi tungkai yang disertai dengan kontraksi otot kuadriseps.
  4. Achilles pess refleks, ketukan pada tendon achiles akan menimbulkan rerfleks berupa plantar rfleksi dari kaki dan kontraksi otot gastroknemius.
  5. Apabila sisi kolateral mata disentuh oleh benda asing contohnya sentuhan dengan kapas maka terjadi respon berupa kadipan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Pratama, Tomi. 2008.  Gerak Refleks Pada Manusia. http://thetom022. wordpress. com /2008/01/15/gerak-reflek-pada-manusia/.
  2. http://mybloglilis.blogspot.com/2011/03/laporan-anfisman-gerak-refleks.html
  3. Laporan-Laporan Lengkap  Laporan Refleks Fisiologis.htm

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here