LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI dan FISIOLOGI MANUSIA SISTEM KARDIOVASKULER

0
2255

LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI dan FISIOLOGI MANUSIA

SISTEM KARDIOVASKULER

 

BAB I PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang

Sirkulasi darah adalah sistem yang berfungsi dalam pengangkutan dan penyebaran enzim, zat nutrisi, oksigen, karbondioksida, garam-garam, antibodi (kekebalan) dan senyawa N, dari tempat asal ke seluruh bagian tubuh sehingga diperlukan tekanan yang cukup untuk menjamin aliran darah sampai ke bagian jaringan-jaringan tubuh (Afrianto, 2012). Sirkulasi darah di bantu oleh system kardiovaskuler. Di mana, jantung sangat berperan penting dalam hubungannya dengan pemompaan darah ke seluruh tubuh melalui sistem sirkulasi darah.

Keefektifan kerja jantung dikendalikan oleh faktor instrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor instrinsik adalah sistem nodus, yang mengantarkan rambatan depolarisasi dan pacu jantung (sinus spenosus ke bagian-bagian dari jantung. Meskipun kontraksi otot jantung tidak tergantung pada impuls saraf tetapi laju kontraksinya dikendalikan oleh saraf otonom. Selain itu aktivitas jantung juga dipengaruhi oleh bermacam-macam bahan kimia, hormon, ion-ion, dan metabolit (Tim Dosen, 2012: h. 11).

Berdasarkan uraian singkat di atas, maka dipandang perlu untuk mengkaji lebih dalam dengan melakukan percobaan kontraksi otot jantung.

1.2              Tujuan Praktikum

  • Mengetahui tempat pengukuran denyut jantung
  • Mengetahui karakteristik denyut jantung
  • Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi denyut jantung
  • Mengetahui cara mengukut denyut jantung
  • Mengukur denyut jantung

1.3              Landasan Teori

Sistem peredaran darah atau sistem kardiovaskular adalah suatu sistem organ yang berfungsi memindahkan zat ke dan dari sel. Sistem ini juga menolong stabilisasi suhu dan pH tubuh (bagian dari homeostasis).

Ada dua jenis sistem peredaran darah: sistem peredaran darah terbuka, dan sistem peredaran darah tertutup. sistem peredaran darah, yang merupakan juga bagian dari kinerja jantung dan jaringan pembuluh darah (sistem kardiovaskuler) dibentuk. Sistem ini menjamin kelangsungan hidup organisme, didukung oleh metabolisme setiap sel dalam tubuh dan mempertahankan sifat kimia dan fisiologis cairan tubuh.

  1. Pertama, darah mengangkut oksigen dari paru-paru ke sel dan karbon dioksida dalam arah yang      berlawanan.
  2. Kedua, yang diangkut dari nutrisi yang berasal pencernaan seperti lemak, gula dan protein dari saluran pencernaan dalam jaringan masing-masing untuk mengonsumsi, sesuai dengan kebutuhan mereka, diproses atau disimpan.

Metabolit yang dihasilkan atau produk limbah (seperti urea atau asam urat) yang kemudian diangkut ke jaringan lain atau organ-organ ekskresi (ginjal dan usus besar). Juga mendistribusikan darah seperti hormon, sel-sel kekebalan tubuh dan bagian-bagian dari sistem pembekuan dalam tubuh.

Sistem sirkulasi diperlengkapi dengan suatu sistem rumit untuk mengatur aliran darah ke berbagai bagian tubuh. Pada umumnya, ada tiga jenis pengaturan yang utama, sebagai berikut :

  1. Pengaturan aliran darah setepat dalam tiap-tiap jaringan tersendiri, aliran tersebut terutama diatur sesuai dengan kebutuhan jaringan akan aliran darah.
  2. Pengaturan aliran darah oleh saraf, yang sering mempengaruhi aliran darah dalam segmen-segmen besar sirkulasi sistemik, seperti perpindahan aliran darah dari jaringan vaskular non-muskular ke otot-otot selama gerak bada atau perubahan aliran darah di dalam kulit untuk mengatur suhu tubuh.
  3. Pengaturan humoral, tempat berbagai zat yang terlarut di dalam darah, seperti hormon, ion atau bahan kimia lain dapat menyebabkan kenaikan atau penurunan dalam aliran jaringan setempat atau perubahan umum yang menyeluruh dalam aliran darah.

Sirkulasi darah di luar jantung dibagi dalam 2 kelompok besar yaitu :

  1. Sirkulasi sistemik yang mengedarkan darah dari ventrikel kiri melalui seluruh bagian tubuh dan kembali ke atrium kanan.
  2. Sirkulasi pulmonalis yang mengedarkan darah dari ventrikel kanan melalui paru-paru kembali ke atrium kiri.

Sirkulasi sistemik dan pulmonalis ini membentuk peredaran darah tepi (sirkulasi perifer). Fungsi peredaran darah tepi ialah untuk mengedarkan darah, pertukaran zat gizi dan gas, transport (hormon, komponen sistem imun, enzim, dll), pengaturan tekanan darah dan mengarahkan peredaran darah ke jaringan pada saat dibutuhkan.

Sirkulasi sistemik dapat dibagi menjadi lima :

  1. Arteri

Dinding aorta dan arteri besar mengandung banyak jaringan elastis dan sebagian otot polos. Jaringan arteria ini terisi sekitar 15% dari volume total darah. Karena itu sistem arteria dianggap sebagai sirkuit yang rendah volumenya tetapi tinggi tekanannya. Karena sifat dan tekanan ini maka cabang-cabang arteri disebut sirkuit resistensi. Fungsi arteri adalah untuk menyalurkan darah bertekanan tinggi ke jaringan. Oleh karena itu arteri memiliki dinding vaskular yang tebal dan kuat, sehingga darah dapat mengalir dengan cepat ke jaringan-jaringan.

  1. Arteriola

Dinding arteriola terdiri dari otot polos dengan sedikit serabut elastis yang sangat peka dan dapat berdilatasi atau berkontraksi untuk mengatur aliran darah ke jaringan kapiler. Arteriola menjadi tempat resistensi utama aliran darah dari seluruh percabangan arteria. Akibatnya tekanan pada kapiler akan turun mendadak dan aliran berubah dari berdenyut menjadi aliran tenang, sehingga memudahkan pertukaran nutrient pada tingkat kapiler. Pada persambungan antara arteriola dan kapiler terdapat sfingter prekapiler yang berada di bawah pengaturan fisiologis yang cukup rumit.

  1. Kapiler

Dinding pembuluh kapiler sangat tipis, terdiri dari satu lapis sel endotel. Melalui membran yang tipis dan semipermeabel inilah nutrisi dan metabolit berdifusi dari daerah yang konsentrasinya tinggi ke konsentrasinya rendah.

  1. Venula

Venula berfungsi sebagai saluran pengumpul dengan dinding otot yang relatif lemah namun peka. Pada pertemuan antara kapiler dan venula terdapat sfingter postkapiler.

  1. Vena

Vena berfungsi menyalurkan darah dari jaringan kapiler melalui sistem vena, masuk ke atrium kanan. Pembuluh vena dapat menampung darah dalam jumlah banyak dengan tekanan relatif rendah. Karena sifat aliran vena yang bertekanan rendah, dinding vena tipis. Meskipun demikian, dinding tersebut berotot, dan ini memungkinkan mereka untuk mengecil atau membesar sehingga bekerja sebagai susunan untuk darah tambahan, maka sistem vena disebut sistem kapasitas, kira-kira 65% dari volume darah terdapat dalam sistem vena.

Darah yang mengalir ke setiap jaringan hampir seluruhnya diatur oleh tingkat kontraksi atau dilatasi arteriol, dan di dalam kapilerlah terjadi proses penting pertukaran di antara darah dan cairan interstisial. Setelah meninggalkan arteri kecil, darah mengalir melalui arteriol, yang panjangnya hanya beberapa milimeter dan berdiameter 8 sampai 50 mikron. Tiap arteriol bercabang berkali-kali untuk kemudian berakhir pada 10 sampai 100 kapiler.

Pada orang dewasa yang sehat, saat sedang istirahat maka denyut jantung yang normal adalah sekitar 60-100 denyut per menit (bpm). Jika didapatkan denyut jantung yang lebih rendah saat sedang istirahat, pada umumnya menunjukkan fungsi jantung yang lebih efisien dan lebih baik kebugaran kardiovaskularnya.

Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi jumlah denyut jantung seseorang, yaitu aktivitas fisik atau tingkat kebugaran seseorang, suhu udara disekitar, posisi tubuh (berbaring atau berdiri), tingkat emosi, ukuran tubuh serta obat yang sedang dikonsumsi.

Tekanan darah adalah tekanan yang ditimbulkan pada dinding arteri. Tekanan puncak terjadi saat ventrikel berkontraksi dan disebut tekanan sistolik. Tekanan diastolik adalah tekanan terendah yang terjadi saat jantung beristirahat. Tekanan darah biasanya digambarkan sebagai rasio tekanan sistolik terhadap tekanan diastolik, dengan nilai dewasa normalnya berkisar dari 100/60 sampai 140/90. Rata-rata tekanan darah normal biasanya 120/80 (Smeltzer & Bare, 2001).

Menurut Hayens (2003), tekanan darah timbul ketika bersikulasi di dalam pembuluh darah. Organ jantung dan pembuluh darah berperan penting dalam proses ini dimana jantung sebagai pompa muskular yang menyuplai tekanan untuk menggerakkan darah, dan pembuluh darah yang memiliki dinding yang elastis dan ketahanan yang kuat. Sementara itu Palmer (2007) menyatakan bahwa tekanan darah diukur dalam satuan milimeter air raksa (mmHg).

Tekanan darah adalah pemeriksaan tekanan darah merupakan indikator dalam menilai fungsi kardiovaskuler. tekanan maksimum pada dinding arteria yang terjadi ketika bilik kiri jantung menymprotkan darah klep aortik yang terbuka kedalam aorta disebut sebagai tekanan sistolik.(alimul aziz,2009)

Tekanan darah adalah tekanan yang di timbulkan oleh dinding arteri. Tekanan puncak terjadi saat pentrikel berkontraksi yang di sebut tekanan sistol.

Tekanan diastolik adalah tekanan terendah yang terjadi saat jantung beristirahat. Tekanan darah biasanya digambarkan sebagai rasio tekanan sistolik terhadap diastolik dengan nilai dewasa normalnya berkisar 100/60 – 140/90 mmHg. Rata-rata tekanan darah normal biasanya 120/80 mmHg ( smeltzer dan bare, 2001 )

Tekanan darah timbul ketika bersikulasi di dalam pembuluh darah. Organ jantung dan pembuluh darah yang memiliki dinding yang elastis dan ketahanan yang kuat. Sementara itu Palmer (2007) menyatakan tekanan darah di ukur dalam satuan milimeter ari raksa (mmHg).
Tekanan darah adalah suatu kekuatan yang dihasilkan darah terhadap setiap satuan luas dinding pembuluh darah. Tekanan darah maksimal (sistole) adalah tekanan pada dinding arteri saat ventrikel memompa darah melalui katub aorta. Pada saat ventrikel rileks, darah yang tetap dalam arteri menimbulkan tekanan minimum ( Diastolik ). Tekanan diastolik adalah tekanan minimal yang mendesak dinding arteri setiap waktu.

Untuk mengukur tekanan darah maka perlu dilakukan pengukuran tekanan darah secara rutin. Pengukuran tekanan darah dapat dilakukan secara langsung atau tidak langsung. Pada metode langsung, kateter arteri dimasukkan ke dalam arteri. Walaupun hasilnya sangat tepat, akan tetapi metode pengukuran ini sangat berbahaya dan dapat menimbulkan masalah kesehatan lain (Smeltzer & Bare, )

Menurut Nursecerdas (2009), bahaya yang dapat ditimbulkan saat pemasangan kateter arteri yaitu nyeri inflamasi pada lokasi penusukkan, bekuan darah karena tertekuknya kateter, perdarahan: ekimosis bila jarum lepas dan tromboplebitis. Sedangkan pengukuran tidak langsung dapat dilakukan dengan menggunakan sphygmomanometer dan stetoskop. Sphgmomanometer tersusun atas manset yang dapat dikembangkan dan alat pengukur tekanan yang berhubungan dengan ringga dalam manset. Alat ini dikalibrasi sedemikian rupa sehingga tekanan yang terbaca pada manometer seseuai dengan tekanan dalam milimeter air raksa yang dihantarkan oleh arteri brakialis (Smeltzer & Bare, 2001).

Anatomi dan Cara kerja jantung

Jantung terdiri atas empat ruang, yaitu dua ruang yang berdinding tipis disebut atrium dan dua ruang yang berdinding tebal disebut ventrikel.

Paru-paru mengalirkan darah yang teroksigenasi ke atrium kiri, dari atrium kiri darah akan ditampung ke ventrikel kiri, bila darah dalam ventrikel kiri penuh maka katup aortif akan membuka, dan darah dari ventrikel kiri pertama kali akan menyentuh dinding katup aortif (sistol) dan darah mengalir ke aorta dan langsung ke vena dan arteri lebih sempit. Setelah melewati arteri vena, ada mekanisme pembuluh vena balik akan mengeluarkan darah kembali ke  atrium kanan melalui vena kafa superior dan inferior.

Darah dari atrium kanan akan berbagi dengan ventrikel kanan, dari atrium kiri dan kanan darah yang penuh akan di alirkan ke ventrikel kiri dan kanan (rendahnya darah dari atrium ke ventrikel > diastole). (Arif muttakin,2009)

Nilai normal tekanan darah ( Fundamental of nursing ) 

  1. Bayi                             : 65 – 115/42 – 80 mmHg
  2. 7 tahun                        : 87 – 117/48 – 64 mmHg
  3. 10 – 19 tahun              : 124 – 136/77 – 84 mmHg ( laki – laki )

                                                  124 – 127 / 63 – 74 mmHg (wanita)

  1. Dewasa                       : 120/80 mmHg
  2. Lansia                          : 140 – 160 / 80 – 90 mmHg

Tempat – tempat pengukuran tekanan darah

  1. Arteri brakial         : arteri yang terletak di siku bagian dalam.
  2. Arteri popliteal      : arteri yang terletak di belakang lutut.
  3. Arteri radial      : arteri yang terletak pada pergelangan tangan yang sejajar dengan ibu jari.

BAB II

METODE PERCOBAAN

  1.           ALAT DAN BAHAN

–          Stetoskop

–          Jam

–          Lampu senter

–          Tensimeter

  1. CARA KERJA
  2. Denyut Jantung
  3. Meminta orang coba berbaring/duduk dengan tenang. Memberikan sinar pada dada bagian kiri di daerah interkostal kelima sebelah dalam garis midklavikula agar denyut jantung terlihat lebih jelas.
  4. Dengan palpasi, lalu menentukan letak apeks jantung (tempat dimana denyut jantung teraba paling kuat). Meletakkan stetoskop pada apeks dan auskultasi bunyi jantung S1 dan S2 (terdengar seperti “lub dup”). Bila irama S1 dan S2 terdengar teratur, hitung kecepatannya selama 30 detik. Mengulangi latihan ini sampai memperoleh hasil yang sama.
  5. Meminta orang coba melakukan aktivitas (olahraga) selama 10 menit. Melakukan pengukuran denyut jantung dengan cara yang sama seperti diatas dan mencatat hasil pengukuran.
  1. Tekanan Darah

Cara memasang manset yang benar :

  1. Lengan baju digulung setinggi mungkin sehingga tidak terlilit manset.
  2. Tepi bawah manset berada pada 2-3 cm di atas fosa cubiti.
  3. Pipa karet jangan menutup fosa cubiti.
  4. Manset diikat dengan cukup ketat.

Mengukur tekanan darah :

  1. Orang coba posisi duduk, lengan bawah berpangku di atas paha, pergelangan tangan supinasi.
  2. Lakukan pemeriksaan tekanan darah dengan austulkasi, tentukan tekanan sistolik dan diastolik.
  3. Turunkan tekanan manset sampai posisi nol sambil meraba arteri radialis, naikkan tekanan manset sampai denyut arteri radialis tidak teraba. Tekanan terus dinaikkan sampai 30mmHg di atasnya.
  4. Tanpa mengubah letak jari, turunkan tekanan manset sampai denyut arteri radialis kembali teraba. Pada saat arteri radialis teraba, manometer Hg menunjukkan tekanan sistolik.

 BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Denyut Jantung
No Orang

Coba

Usia Jenis kelamin Denyut Jantung
Kecepatan Irama Kekuatan
Istirahat Aktivitas Istirahat Aktivitas Istirahat Aktivitas
1 Embas 19th Perempuan 48 70 Teratur Terlalu Cepat Lambat Kuat
2 Erna 19th Perempuan 40 75 Teratur Terlalu Cepat Lambat Kuat
3 Fransiska 19th Perempuan 42 70 Teratur Terlalu cepat Lambat Kuat
  1. Tekanan Darah
No Orang coba usia Jenis kelamin Tekanan darah
1 Eugenius 19th Laki-laki 104/70 mmHg
2 Fransiska 19th Perempuan 110/70 mmHg
3 Diari 19th Perempuan 110/70 mmHg

PEMBAHASAN

Dari hasil pengamatan dari 3 orang coba pada praktek mengukur denyut jantung diperoleh rata-rata kecepatan 43 selama 30 detik sedangkan untuk 3 orang coba dalam praktek mengukur tekanan darah diperoleh hasil dengan menggunakan tensimeter manual adalah dibawah dari tekanan darah normal. Terjadi kesalahan pada saat pengamatan dan kepekaan terhadap denyut nadi orang coba tersebut.

Pada sistem kardiovaskuler tekanan sistole dan diastole ini dapat diukur. Pada tubuh yang normal didapatkan bahwa tekanan sistole sebesar 120 mmHg serta tekanan pada saat diastole sebesar 80 mmHg.

Selain tekanan sistole dan diastole, pada sistem kardiovaskuler dapat juga diukur berapa frekuensi nadi seseorang. Frekuensi nadi ini di dapat dari adanya gelombang yang merambat dalam pembuluh darah akibat adanya tekanan sistole dan diastole yang dihasilkan oleh katub-katub yang ada di dalam jantung.

Gelombang itu menjalar melalui aorta yang bersifat elastis, sehingga pada saat aorta itu terisi oleh darah, yang sebelumnya juga sudah berisi darah maka aorta itu akan kembang-kempis. Adanya kembang-kempis inilah yang dapat kita rasakan sebagai denyut nadi. Frekuensi nadi ini dapat diukur dengan memegang arteri radialis sebagai tempat yang sering dan dapat dengan mudah ditemukan untuk mengukur jumlah frekuensi nadi. Biasanya pada keadaan normal frekuensi nadi seseorang rata-rata berjumlah 70-75 kali per menit.

Tekanan sistole, diastole serta denyut nadi, sangatlah dibutuhkan dalam keadaan normal untuk menjaga agar darah dapat mengalir dengan sempurna sehingga pasokan suply darah untuk organ-organnya pun optimal.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tekanan darah yaitu keadaan jantung itu sendiri serta pengaruh dari luar jantung seperti usia, aktifitas maupun penyakit  yang  dapat  menyebabkan  kelainan  dan  gangguan  pada  sistem kardiovaskuler sehingga darah tidak dapat beredar secara normal.

Untuk menjaga agar sistem kardiovaskuler ini tetap dalam keadaan normal sehingga mampu mempertahankan homeostatis cairan tubuh perlu perhatian yang mendalam dan menjaga agar sistem kardovaskuler ini tetap berjalan normal terhadap arti pentingnya dalam kehidupan manusia yang tidak akan pernah mampu hidup jika sistem kardiovaskuler ini berhenti bekerja terutama jantung berhenti berdetak walaupun hanya beberapa detik saja.

Faktor-faktor yang menentukan tekanan darah adalah :
–  Faktor Fisiologis :

  1. Kelenturan dinding arteri
  2. Volume darah, semakin besar volume darah maka semakin tinggi tekanan darah.
  3. Kekuatan gerak jantung
  4. Viscositas darah, semakin besar viskositas, semakin besar resistensi terhadap aliran.
  5. Curah jantung, semakin tinggi curah jantung maka tekanan darah meningkat
  6. Kapasitas pembuluh darah, makin basar kapasitas pembuluh darah maka makin tinggi tekanan darah.

–    Faktor Patologis:

  1. Posisi tubuh : Baroresepsor akan merespon saat tekanan darah turun dan berusaha
    menstabilkan tekanan darah
  2. Aktivitas fisik : Aktivitas fisik membutuhkan energi sehingga butuh aliran yang
    lebih cepat untuk suplai O2 dan nutrisi (tekanan darah naik)
  3. Temperatur : menggunakan sistem renin-angiontensin –vasokontriksi perifer
  4. Usia : semakin bertambah umur semakin tinggi tekan darah (berkurangnya elastisitas
    pembuluh darah )
  5. Jenis kelamin : Wanita cenderung memiliki tekanan darah rendah karena komposisi
    tubuhnya yang lebih banyak lemak sehingga butuh O2 lebih untuk pembakaran
  6. Emosi : Emosi Akan menaikan tekanan darah karena pusat pengatur emosi akan menset
    baroresepsor untuk menaikan tekanan darah

BAB IV

KESIMPULAN

Sistem peredaran darah atau sistem kardiovaskular adalah suatu sistem organ yang berfungsi memindahkan zat ke dan dari sel. Sistem ini juga menolong stabilisasi suhu dan pH tubuh (bagian dari homeostasis).

            Dari hasil pengamatan diperoleh hasil dari pengukuran denyut jantung pada saat istirahat sekitar 43 kali selam 30 detik dan ketika beraktivitas (berlari dari lantai1-3 bolak-balik) diperoleh sekitar 70 kali selama 30 detik, sedangkan untuk hasil dari pengukuran tekanan darah diperoleh tekanan yang dibawah tekanan normal pada usia 19 tahun. Kesalahan disebabkan kekurangtelitian pada saat pengamatan tensimeter dan kepekaan pada denyut nadi orang coba tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

  1. http://risna-ajjah.blogspot.com/2012/01/sistem-kardiovaskuler.html
  2. http://www.unjabisnis.net/anatomi-sistem-kardiovaskuler-dan-cara-kerja-jantung.html
  3. http://id.scribd.com/doc/53490282/Makalah-Anatomi-Sistem-Kardiovaskuler
  4. http://kardiovaskularkolesterol.blogspot.com/
  5. http://kaiean.blogspot.com/2013/05/makalah-sistem-kardiovaskuler-jantung.html
  6. http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_peredaran_darah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here