FORMULA TEKHNOLOGI SEDIAAN LIQUID  “KRIM PEMUTIH dengan EKSTRAK BUAH PEPAYA”

0
262

 FORMULA TEKHNOLOGI SEDIAAN LIQUID  “KRIM PEMUTIH dengan EKSTRAK BUAH PEPAYA”

 

BAB I PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang

Kulit adalah organ yang paling luar yang mempunyai banyak fungsi yang penting yaitu, selain sebagai indera perasa dan pelindung tubuh dari ancaman kondisi alam sekitar. Kulit membantu mengatur suhu tubuh juga melindungi dari virus dan bakteri, dan tak kalah penting menjalankan fungsi sekresi serta pengeluaran cairan. Kulit sehat sebenarnya cerminan kondisi tubuh yang sehat, sebaliknya kulit kusam kurang bercahaya bias menjadi indikasi tubuh tidak dalam keadaan fit.

Masalah Perkembangan ilmu kefarmasian saat ini menunjukkan adanya peningkatan penggunaan bahan alam sebagai bahan aktif dalam pembuatan sediaan. Masyarakat kini lebih memilih produk yang mengandung bahan alami sebagai pengobatan karena faktor keamanan dan efek samping yang relatif lebih kecil dibanding zat kimia. Pada sisi lain munculnya gerakan “Kembali ke Alam”, berimbas juga pada upaya meminimalisir penggunaan obat berbahan sintetik beralih ke bahan alam atau fitofarmaka. WHO melaporkan, saat ini tidak kurang dari 75% penduduk dunia mulai lebih banyak menggunakan obat – obatan fitofarmaka yang disebut sebagai healing herbs.

Salah satunya adalah kencur. Tentu semua orang mengenal kencur. Aromanya khas aromatic, rasa pedas, hangat, agak pahit. Akhirnya menimbulkan rasa tebal bila dimakan mentah menjadikan tanaman ini sering dipakai sebagai bumbu dasar dalam masakan. Namun kencur dengan nama latin Kaemferia rhizoma ini ternyata memiliki banyak manfaat untuk mengobati berbagai penyakit seperti masuk angin, sakit kepala, diare, keseleo, kelellahan, influenza pada bayi, radang lambung, batuk, menghilangkan darah kotor dan melancarkan haid. Selain itu juga dapat dibuat menjadi sediaan kosmetika.

Menurut penelitian minyak atsiri yang dihasilkan dari kencur memiliki lebih dari 23 jenis senyawa. Kandungan kimia yang terdapat dalam kencur adalah : pati (14,4%), mineral (13,73%), minyak atsiri (0,02%).

Maka dari itu kami membuat sediaan krim dengan zat aktif ekstrak kencur. Ekstrak kencur (etil p-metoksisinamat) digunakan untuk pemakaian topical pada kulit yang berfungsi untuk perlindungan kulit dari sinar matahari.

1.2              Landasan Teori

1.2.1                 Krim

  1. Pengertian Krim

Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. (FI III)

  • Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. (FI IV hal. 6)
  • Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kental mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. (Formularium Nasional)
  • Krim adalah bentuk sediaan setengah padat berupa emulsi yang mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai (mengandung air tidak kurang dari 60%). (Ilmu Resep hal. 74)
  1. Fungsi Krim

Fungsi krim adalah sebagai bahan pembawa substansi obat untuk pengobatan kulit, sebagai bahan pelumas untuk kulit, dan sebagi pelindung untuk kulit yaitu mncegah kontak permukaan kulit dengan larutan berair dan rangsangan kulit ( Anief, 2000).

  1. Syarat Sediaan yang Baik dan Persyaratannya

Syarat – syarat krim antara lain :

  1. Stabil selama dalam pemakaian pada suhu kamar dan kelembaban yang ada dalam kamar
  2.  Lunak yaitu semua zat dalam keadaan halus
  3. Seluruh produk homogeny
  4. Mudah dipakai

4.

  1. Cara Pengujian Krim
  1. Uji Organoleptis

1.Diamati sediaan krim yang meliputi :

  • Bentuk
  • Warna
  • Bau
  • Uji sediaan secara topikal
  1. Uji Homogenitas

2.dioleskan 0,5 gram sampel pada objek glass, kemudian ditutup dengan objek glass lainnya. Diamati ada partikel atau tidak

  1. Uji pH

3.agar sesuai dengan pH kulit yaitu 4,5 – 6,5. Evaluasi pH menggunakan alat pH meter, dengan cara perbandingan 3 g : 10 ml air yang digunakan untuk mengencerkan, kemudian aduk hingga homogen, dan diamkan agar mengendap, air yang di ukur dengan pH meter, catat hasil yang tertera pada alat pH meter. pH juga dapat diuji menggunakan indikator universal.

  1. Uji Daya Sebar

4.0,5 gram sediaan krimdiletakkan ditengah alat ekstensometer, ditimbang dulu penutup kaca ekstensometer lalu letakkan diatas massa sediaan selama 1 menit. Diukur diameter sediaan yang menyebar dengan mengambil rata-rata diameter dari beberapa sisi.

  1. Ditambahkab 50 gram beban tambahan, diamkan selama I menit. Dicatat diameter sediaan yang menyebar. Ditambahkan bebean 50 gram lagi diamkan selama 1 menit. Dicatat diameter sediaan yang menyebar. Dibuat grafik hubungkan antara luas dan beban sediaan yang menyebar.
  2. Uji Daya Lekat

6.0,5 gram sediaan krim diletakkan pada objek glass pada alat uji daya lekat, ditambah beban 500 gram, diamkan 1 menit, setelah 1 menit beban diturunkan. Objek glass dijepit pada alat uji daya lekat dan ditarik dengan beban 65 gram, catat waktunya.

  1. Uji Stabilitas Krim
  2. Sampel dimasukkan dalam tabung sentrifuge, kemudian diputar pada 3000rpm selama 30 menit. Kemudian diamati adanya pemisahan
  3. Amati stabilitas sedian krim terhadapadanya pemisahan fase air dan fase minyak selama penyimpanan 1, 3, dan 7 hari.
  4. Amati terjadinya pertumbuhan mikroorganisme dengan mengamati timbulnya mikrooranisme pada permukaan sedian krim selama penyimpanan 1, 3, dan 7 hari

1.2.2                    Kencur

Kencur (Kaempferia galanga L) adalah salah satu tanaman obat yang tergolong dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae). Rimpang ato rhizome tanaman ini mengandung minyak atsiri dan alkaloid yang dimanfaatkan sebagai stimulan.

Kerajaan : Plantae

Divisi: Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Ordo : Zingiberales

Famili : Zingiberaceae

Genus : Kaempferia

Spesies : K. galanga

Komposisi kimia rimpang :

  • Pati (4,14%)
  • Mineral (13,73%)
  • Minyak atsiri (0,02%), berupa :
  • Sineol
  • Asam metal kanil dan penta dekaan
  • Asam sinamat
  • Etil ester
  • Borneol
  • Kamphene
  • Paraeumarin
  • Asam anisat
  • Alkaloid
  • Gom

Dalam membuat krim tabir surya ini kami menggunakan ekstrak kencur yang didapatkan dengan cara maserasi serbuk kencur. Maserasi adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi bahan nabati yang direndam menggunakan pelarut bukan air (pelarut non polar) atau setengah air, misalnya etanol encer, selama periode waktu tertentu sesuai dengan aturan dalam buku resmi kefarmasian (Farmakope Indonesia 1995). Apa yang disebut “bahan nabati”, dalam dunia farmasi lebih dikenal dengan istilah “simplisia nabati”.

Keuntungan dari metode ini :

  1. Unit alat yang dipakai sederhana, hanya dibutuhkan bejana perendam
  2. Biaya operasionalnya relative rendah
  3. Prosesnya relatif hemat

Kelemahan dari metode ini :

  1. Proses penyaringannya tidak sempurna, karena zat aktif hanya mampu terekstraksi sebesar 50% saja
  2. Prosesnya lama, butuh waktu beberapa hari

Dalam ekstrak kencur terdapat senyawa sinamat. Sinamat adalah salah satu senyawa yang berpotensi sebagai senyawa tabir surya. Oktil sinamat contohnya saat ini sangat populer dalam industri kosmetika karena memiliki aktivitas perlindungan yang tinggi dan tidak memiliki efek samping.

Etil p-metoksisinamat (EPMS) adalah salah satu senyawa hasil isolasi rimpang kencur (Kaempferia galanga L) yang merupakan bahan dasar senyawa tabir surya yaitu pelindung kulit dari sengatan sinar matahari. EPMS termasuk dalam golongan senyawa ester yang mengandung cincin benzene dan gugus metoksi yang bersifat nonpolar dan juga gugus karbonil yang mengikat etil yang bersifat sedikit polar sehingga dalam ekstraksinya dapat menggunakan pelarut-pelarut yang mempunyai variasi kepolaran yaitu etanol, etil asetat, metanol, air dan heksana.

Senyawa etil p-metoksisinamat adalah berfasa padat dan berukuran sangat kecil, sehingga untuk memisahkannya dari tanaman kencur, kita harusmenggunakan teknik pemisahan ekstrak padat-cair

1.3              Spesifikasi Produk Originator

Nama                     : Whitening Cream

Bentuk                   : Setengah Padat (Semi Solid)

Warna                    :

Aroma                   : Melati

Rasa                       : tidak berasa

Volume                  :  25 g

Kemasan                : Dalam Pot

Penyimpanan         : Suhu 25-30oC

BAB II ISI

2.1              Alat yang Digunakan

  1. Mortir dan stemper
  2. Beaker Glass
  3. Gelas Ukur
  4. Kaca Arloji
  5. Timbangan
  6. Botol volume 60ml
  7. Cawan Porselen
  8. Sendok Tanduk
  9. Alat evaluasi sediaan

2.2              Formula

No. Jenis Bahan Nama Bahan Per 25 g
1 Bahan aktif Ekstrak Kencur 5 g
2 Bahan tambahan Oleum Cocos 2,5 ml
3 Asam Stearat 3,5 g
4 Gliserin 2,5 ml
5 Trietanolamin 0,25 ml
6 Nipagin 0,025 g
7 Aquadest 11,225 ml
8 Oleum Jasmine qs

2.3              Monografi Bahan

  1. Ekstrak Buah Pepaya

Dalam papaya mengandung Enzim Papain, Vitamin A, Vitamin C,  Beta- Carotene, serat dan zat besi.

Khasiat dan kegunaannya : antioksidan,

  1.  Oleum Cocos (Minyak Kelapa) (FI III Hal 456)

Minyak kelapa adalah Minyak lemah yang diperoleh dengan pemerasan endosperm kering cococs nucifera L.

Pemerian Cairan jernih ; tidak berwarna atau kuning pucat ; bau khas, tidak tengik.

Kelarutan Larut dalam 2 bagian etanol (95%) p pada suhu 600; sangat mudah larut dalam kloroform p dan dalam eter p.

Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik,terlindung dari cahaya,ditempat sejuk.

Khasiat dan penggunaan Zat tambahan.

  1. Acidum Steapicum (Asam Stearat) (FI III Hal 57)

Asam stearat adalah campuran asam organic padat yang diperoleh dari lemak,sebagian besar terdiri dari asam oktadekanoat,C18H36O2 dan asam heksadekanoat,C16H32O2.

Pemerian Zat padat keras mengkilat menunjukan susunan hablur ; putih atau kuning pucat ; mirip lemak lilin.

Kelarutan Praktis tidak larut dalam air ; larut dalam 20 bagian etanol (95%) p,dalam 2 bagian kloroform p dan dalam 3 bagian eter p.

Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik.

Khasiat dan penggunaan Zat tambahan.

  1. Glycerolum (Gliserin) (FI III Hal 271)

Pemerian Cairan seperti sirop ; tidak jernih ; tidak berwana ; tidak berbau ; manis diikuti rasa hangat.Higroskopis jika disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat memadat membentuk massa hablur tidak berwana yang tidak melebur hingga suhu mencapai lebih kurang 200.

Kelarutan Dapat campur dengan air,dan dengan etanol (95%)p ; praktis tidak larut dalam kloroform p,dalam eter p dan dalam minyak lemak.

Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik.

Khasiat dan penggunaan Zat tambahan.

  1. Triaethanolaminum (Trietanolamina) (FI III Hal 612)

Trietanolamina adalah campuran dari terietanolamina,ditrietanolamina dan monotrietanolamina.Mengandung tidak kurang dari 99,0% tidak lebih dari 107,4% dihitung terhadap zat anhidrat sebagai trietanolamina, N (C2H4OH)3.

Pemerian cairan kental ; tidak berwarna hingga kuning pucat ; bau lemah mirip amoniak ; higrokopik.

Kelarutan Mudah larut dalam air dan dalam etanol (95%)p ; larut dalam kloroform p.

Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat,terlindung dari cahaya.

Khasiat dan penggunaan Zat tambahan.

  1. Methylis Parabenum (Nipagin M) ( FI III Hal 378)

Metil paraben mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari 101,0% C8H8O3.

Pemerian Serbuk hablur halus ; putih ; hamper tidak berbau ; tidak mempunyai rasa,kemudian agak membakar diikuti rasa tebal.

Kelarutan Larut dalam 500 bagian air,dalam 20 bagian air mendidih,dalam 3,5 bagian etanol (95%)p dan dalam 3 bagian aseton p ; mudah larut dalam eter p dan dalam larutan alkali hidroksida ; larut dalam 60 bagian gliserol p panas dan dalam 40 bagian minyak lemak nabati,jika didinginkan larutan tetap jernih.

Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik.

Khasiat dan penggunaan Zat tambahan ; zat pengawet.

  1. Aquadest (FI III Hal 96)

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

Khasiat : Zat tambahan

  1. Oleum Jasmine

Pengaroma

2.4

BAB III PENUTUP

3.1              Rancangan Kemasan

Daftar Pustaka

  1. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan; 1995, Farmakope Indonesia. Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
  2. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan; 1979, Farmakope Indonesia. Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
  3. http://shnews.co/healthy/detile-1832-khasiat-buah-pepaya-untuk-antibiotik.
  4.  http://www.tanijogonegoro.com/2012/10/kandungan-dan-manfaat-pepaya.html
  5. http://id.m.wikipedia.org/wiki/Pepaya Syarat zat yang bisa dijadikan standar primer

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here